Kamis, 14 Agustus 2014

Sosok abu-abu

Ntah,, kita bahkan belum pernah bertemu. Bertatap muka, bertegur sapa selayaknya dua orang yang saling mengenal. Perkenalan yang tidak disengaja sebatas mengetahui siapa namaku dan siapa namamu. Memang pernah, ya, aku pernah melihat sosokmu tapi hanya sekilas pandang yang kutangkap dari wajahmu. Itu pun dulu, dulu sekali. Tapi, mengapa kau rajin sekali hadir di mimpiku? Seakan tuhan ingin memberi tanda kepadaku dan kau sebagai pembawa pesan dari langit untuk sesuatu di masa depan ku nanti.

Kau mau tau satu hal? Kau adalah wanita pertama yang ku ikutsertakan dalam do'a ku setelah wanita yang melahirkan aku. Dan pastinya kau tidak tau, dan mungkin tidak peduli, tiap tetes air mata yang menggenangi kelopak mata sembari ku sebut namamu dan semilir angin malam menggiringnya ke langit. Angin lah yang mempertemukanku dengan dirimu. Angin yang membisikkan nada-nada indah tentang dirimu. Angin yang selalu menyampaikan kerinduan ini kepadamu. Angin adalah temanku, teman setia yang selalu tau saat hati ini sedang merindu, merindukan sosok abu-abu. Angin pula yang membawa namamu ke langit yang terucap dari lidah ini. Tepatnya yang mengalir dari hati ini. Tak habis pikir dengan semua ini. Aku memimpikan dan merindukan bahkan mendoakan seorang wanita yang entah siapa itu.

Siapa dirimu? Apa kau bidadari? Inikah sosok bidadari yang seperti di dalam cerita dongeng-dongeng kesatria? Sosok berkabut putih bersih yang selalu bisa melumpuhkan logika setiap manusia? Mengubah monster menjadi kesatria? Mengubah kesatria menjadi pecundang? Ya, kau telah berhasil melumpuhkan logika ku. Membuatku seperti pecundang. Atau memang pecundang? Ah, aku tidak peduli.

"Angin,,"
"Ya,,"
"Aku sedang merindukannya. Kau tau siapa?"
"Tentu saja aku tau, sosok abu-abu,kan?"
"Ya, sosok abu-abu yang biasa mengajakku melihat fatamorgana"
"Apa kau merasa dia juga merindukanmu..?"
"Entahlah. Tapi aku berharap dia merindukanku juga."
"Kau mau tau?"
"Apa?"
"Tidurlah. Maka kau akan tau."

Hmm... Aroma mawar di malam hari membuatku tak ingin berhenti memikirkan mu. Merindukan mu. Tentram ini enggan pergi, meninggalkan si pecundang yang mengangankan sang bidadari. Kau yang disana, coba rasakan angin malam ini. Dia membawa pesan dariku, coba dengarkan bisikku lewat perantara angin sejuk malam ini.

"Sosok abu-abu.. aku merindukanmu.
Hadirlah lagi di mimpiku, sekedar menampakkan warnamu.
Warna lembut terpancar dari hati mu, selembut serbuk sari bunga dari taman firdaus.
Setentram awan yang menghiasi langit senja, kau bersandar di bahuku.
Aku ingin sekali menggenggam mu, wahai bidadariku.
Tunggu aku.. tunggu aku.."

"Sudah larut. Tidurlah,, persiapakan ragamu untuk menyambut hari esok. Kau harus tetap melangkah. Aku tau langkahmu semata-mata hanya untuk dia, untuk menjemputnya, menggenggam tangannya dan membuatnya menjadi sosok yang nyata."
"Ya, benar angin.. Aku ingin meraih tangannya dan membawanya ke dunia ku. Dunia nyata. Aku yakin dia menunggu. Dan aku selalu berharap begitu."

"Sosok abu-abu.. selamat malam..."




Nanda Boess

Minggu, 10 Agustus 2014

Kisah "sederhana"

"Ku buka jendela dan merasakan cerahnya pagi.
Membayangkan wajahmu tersenyum di hadapanku.
Seakan kau berikan semangat kepadaku untuk jalani hari-hariku."

Hmm... lima tahun yang lalu. Ya, benar, aku ngga salah, lima tahun lalu aku menulis kata-kata ini untukmu. Tak kusangka kau masih menyimpannya. Kata-kata yang membuatmu tersenyum. Mungkin, aku harap begitu.

Sempat terlupakan olehku tapi kau selalu mengingatkannya. Kau tau, di balik kata-kata itu ada hati yang sedang berbunga, sedang mabuk kepayang oleh rasa yang aku sebut mmmm.. mungkin cinta. Haha, tertawa dalam hati sangat menggelikan. Kau pernah mengalaminya? Suara tawa ngga akan kau dengar dalam kondisi seperti ini. Hanya garis senyum yang muncul di wajahmu.

Lima tahun berlalu, aku lupa tentang kata-kata itu, tentang perasaan dulu, tapi aku ngga lupa, tentang siapa dirimu, tentang siapa kita. Kita tak lebih hanyalah dua bocah yang berjalan menelusuri sebuah lorong keraguan dan tersesat di dalam kisah "sederhana". Ya,, penantian satu tahun dan menjalani hubungan satu atau dua bulan itu "sederhana". Haha.

Sampai kau datang kembali di hadapanku, mengingatkanku akan semuanya, semua rasa yang pernah kurasakan dulu. Kau coba mengulang kembali semuanya, hari-hari yang terlewatkan dulu. Aku ngga bisa menolak, menolakmu yang mencoba menghidupkan kembali perasaan dan kenangan dulu. Ntah. Aku ngga menolak karena aku memang mau atau karena aku ngga peduli. Aku pun ngga tau. Yang kutau kau sudah ada di sampingku, menggenggam lenganku dan bersandar di bahuku. Cukup singkat bukan? Ya aku sudah bilang tadi ini kisah "sederhana".

Dan kini kututup jendela dan senja mulai tenggelam. Aroma mawar menyelimuti indahnya langit jingga, jingga kehitam-hitaman. Sembari kututup jendela aku berbisik..

"Senja..sambutlah sang bulan dan tenggelamlah bersama bayangnya
Bayangnya yang berbaur dengan awan jingga menghiasi hamparan langit
Dan biarkan aku terlelap dan bermimpi
Sampai kulihat sosoknya esok pagi,
Menggenggam kembali kisah 'sederhana' ini"




Nanda Boess

Rabu, 06 Agustus 2014

Puisi Kehampaan













Semua telah hilang..
Sisakan kepedihan
Ku berjalan di kehampaan
Dinginnya dunia menemani langkahku yang tertatih..letih..
menahan semua perih..

Dan dengarlah..
Jerit hatiku
Dan dekaplah..
Dingin jiwaku

Ku melintasi sunyi malam tanpa seseorang
Yang menggenggam tanganku ketika ku lelah
Berharap hilangkan letih..
Hapuskan semua sepi..sunyi..
Kupejamkam mata 
Dan..

Ku terlelap..
Lupakan sejenak semua perih
Dan melayang..
Didalam cahaya terang benderang

Ku berharap takkan melihat pagi 
Dan terus berada di sini
Dan biarlah semua hilang, terkubur bersama semua mimpi..
mimpi..

Dan dengarlah..
Jerit hatiku
Dan dekaplah..
Dingin jiwaku

Dan dengarlah..dengarlah..
Semua bisikku..
Jeritku..
Puisi..puisi..
Kehampaan..

  Nanda Boess