Rabu, 11 Maret 2015

Mendung merayu

Mendung ini sungguh merayu, merayu kelopak untuk menyelimuti buahnya.
Mata sayu memandang hampa ke arah luar jendela.
Gemuruh kereta menjadi nada pengisi suasana, mendung di pagi ketiga.

mendung ini sungguh merayu, merayu awan untuk melepas butirannya.
Mata sayu memandang hampa ke arah luar jendela.
Mengabaikan dedaunan hijau yang menari lembut menyambut rahmat Sang Kuasa, hujan di pagi ketiga.

Benak hati berkata-kata sekedar mengisi tatapan tak bermakna.
Apa boleh dikata, di bangku ini hanya ada aku dan hampa.
Hampa ini berkuasa, memahat udara menjadi rupa, rupa wajah lama.

Ya. Wajah lama.
Senyum manja yang kurindukan ada di depan mata.
Ya. Puisi lama.
Sajak-sajak cinta yang pernah bercerita.
Ya. Lagu lama.
Melodi-melodi indah yang hilang ditelan gemuruh kereta.
Dan mendung ini memang sungguh merayu, merayu jiwa bermain-main di nirwana.

. . . . .

Nanda Boess

Ruang Spekulasi

Tidak ada alasan kenapa aku memperlakukanmu seperti ini
Yang ku tau aku hanya ingin memperlakukanmu seperti ini
jadi, jangan pernah bertanya kenapa aku mau menjalani semua ini denganmu, melakukan semua ini padamu
Karena aku tidak menemukan jawabannya

Hei, apakah kau tau? Terkadang logikaku bertanya-tanya
kenapa aku mau menjalani semua ini denganmu?
Kau mau tau jawabannya?
...
Tidak ada
Sampai sekarang logikaku belum mendapatkan jawabannya
yang kusadari sampai saat ini aku masih menjalaninya denganmu

Bahagia?
Mungkin ini yang melumpuhkan logikaku
Karena aku bahagia menjalani ini denganmu
Jangan tunjukkan kekecewaan padaku, kumohon.
Karena itu bisa memenangkan logikaku
Tetap lumpuhkan logikaku..
Bidadari..

Terlihat jelas kata-kata itu lagi. Kata-kata yang menimbulkan tanya. Entahlah, apa sosokmu yang sedang aku rindukan atau suasananya yang sedang ku rindukan. Yang kusadari aku pernah tersenyum karena sosok dan suasana dulu. Dulu yang tak pernah kumengerti bisa terlukis cerita-cerita, entah darimana berawal semua tergores sedikit demi sedikit membangun cerita. Kondisinya pun tak pernah kuharapkan. Tinta-tinta yg ingin kuabaikan wujudnya semakin lama semakin liar menggoreskan dirinya di kertas kosong ini.

Kosong. Tatapan tak bermakna memandang lurus ke ujung daratan. Cakrawala. Sesekali hembusan napas panjang mengingatkan mata untuk berkedip. Tatapan hampa sudah mengabaikan indahnya langit senja. Jingga ini sungguh mempesona kawan. Tapi kau sama sekali tidak tertarik untuk berdecak kagum memujinya. Memilih untuk menatap kosong dunia. Sedang mengenang? Atau mungkin sedang mencoba mengosongkan memori? Hah, bukan begitu caranya.

Memori tentang bidadari? Ya, sudah kuduga. Bidadari yang pernah kau nantikan wujudnya, tapi mungkin tak kau harapkan kehadirannya. Bukankah kau meyakini konsep "Tidak ada yang kebetulan"? Lantas, kenapa masih hampa? Tidak ada lagikah yang membuat ruang hatimu ramai? Tidak ada lagikah tawa dan keceriaan? Ayolah kawan, ini hanya masalah waktu. Waktu yang akan menyelesaikannya. Karena ini memang "masalah waktu".

Iya, benar. Ini memang "masalah waktu". Aku mungkin sudah menyerahkan semuanya kepada sang waktu. Dan waktu akan membunuhku secara perlahan. Begitu, kan? Dan memang iya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Setiap pertemuan pasti ada maksud dan tujuannya. Hanya saja yang membuat aku gerah, kita tidak pernah tau maksud dan tujuan pastinya, mungkin sampai kita membuka gerbang kehidupan selanjutnya. Kita hanya bisa berspekulasi, beranggapan tentang maksud dan tujuannya. Entah itu positif atau negatif, tidak ada yang bisa merasa benar di sini. Di ruang spekulasi.

Mungkin aku dipertemukan olehnya agar aku bisa lebih mengerti memahami wanita yang akan mendampingiku nanti. Menghargai setiap penggal pemikirannya, setiap jengkal raganya, dan ridha dengan apa yang dilakukannya untukku. Mungkin Tuhan menunjuk dia sebagai bahan belajarku. melatihku lebih bijaksana menghadapi konflik antara dua insan, menghadapi kebohongan. Padahal itu perkara mudah. kalau tidak suka maka tinggalkan, kalau dia punya arti maka pertahankan. Tidak perlu bertindak berlebihan sampai-sampai emosi menguasai lisan.Tapi, yang membuat ini terasa begitu menyakitkan adalah ketika mengetahui orang yang kita pertahankan tidak menginginkan keberadaan kita lagi. Tergantikan? Ya, mungkin begitu adanya.

Dan memang tidak ada yang kebetulan, semuanya diijinkan terjadi. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan bahwa bukan dia bidadari yang akan selalu setia melihat gerak gerikku, yang selalu sedia mendengar rencana-rencana besarku, yang selalu tersenyum manja mendengar nada-nada mesra dariku, yang selalu mendoakan setiap langkahku, yang selalu yakin semua yang kulakukan itu hanya untuk menciptakan senyum manis bibirnya, senyum bahagia.

Inilah spekulasi yang terbaik yang bisa aku ciptakan.
Huhh, setidaknya aku sudah berpikir positif dan mulai mengikhlaskan.Dan kurasa aku sudah mendapatkan jawabannya. jawaban dari pertanyaan aku dan dia. Aku tidak ingin melihatmu jatuh (lagi). Itu jawabannya.
Yah, aku merasa lebih baik sekarang.

Syukurlah kalau ini hasil tatapan kosongmu. Tidak maukah kau bangun sejenak dari kekosonganmu dan menikmati langit jingga ini, kawan?

Hemm. Indah.. Sungguh indah. Kau benar kawan. Bagaimana bisa aku setia menikmati kekosongan dan mengabaikan indahnya langit jingga ini. Ini benar benar indah teman. Keindahan dari Sang Kuasa. Keindahan dari mengikhlaskan.

. . . . .

Nanda Boess

Kamis, 14 Agustus 2014

Sosok abu-abu

Ntah,, kita bahkan belum pernah bertemu. Bertatap muka, bertegur sapa selayaknya dua orang yang saling mengenal. Perkenalan yang tidak disengaja sebatas mengetahui siapa namaku dan siapa namamu. Memang pernah, ya, aku pernah melihat sosokmu tapi hanya sekilas pandang yang kutangkap dari wajahmu. Itu pun dulu, dulu sekali. Tapi, mengapa kau rajin sekali hadir di mimpiku? Seakan tuhan ingin memberi tanda kepadaku dan kau sebagai pembawa pesan dari langit untuk sesuatu di masa depan ku nanti.

Kau mau tau satu hal? Kau adalah wanita pertama yang ku ikutsertakan dalam do'a ku setelah wanita yang melahirkan aku. Dan pastinya kau tidak tau, dan mungkin tidak peduli, tiap tetes air mata yang menggenangi kelopak mata sembari ku sebut namamu dan semilir angin malam menggiringnya ke langit. Angin lah yang mempertemukanku dengan dirimu. Angin yang membisikkan nada-nada indah tentang dirimu. Angin yang selalu menyampaikan kerinduan ini kepadamu. Angin adalah temanku, teman setia yang selalu tau saat hati ini sedang merindu, merindukan sosok abu-abu. Angin pula yang membawa namamu ke langit yang terucap dari lidah ini. Tepatnya yang mengalir dari hati ini. Tak habis pikir dengan semua ini. Aku memimpikan dan merindukan bahkan mendoakan seorang wanita yang entah siapa itu.

Siapa dirimu? Apa kau bidadari? Inikah sosok bidadari yang seperti di dalam cerita dongeng-dongeng kesatria? Sosok berkabut putih bersih yang selalu bisa melumpuhkan logika setiap manusia? Mengubah monster menjadi kesatria? Mengubah kesatria menjadi pecundang? Ya, kau telah berhasil melumpuhkan logika ku. Membuatku seperti pecundang. Atau memang pecundang? Ah, aku tidak peduli.

"Angin,,"
"Ya,,"
"Aku sedang merindukannya. Kau tau siapa?"
"Tentu saja aku tau, sosok abu-abu,kan?"
"Ya, sosok abu-abu yang biasa mengajakku melihat fatamorgana"
"Apa kau merasa dia juga merindukanmu..?"
"Entahlah. Tapi aku berharap dia merindukanku juga."
"Kau mau tau?"
"Apa?"
"Tidurlah. Maka kau akan tau."

Hmm... Aroma mawar di malam hari membuatku tak ingin berhenti memikirkan mu. Merindukan mu. Tentram ini enggan pergi, meninggalkan si pecundang yang mengangankan sang bidadari. Kau yang disana, coba rasakan angin malam ini. Dia membawa pesan dariku, coba dengarkan bisikku lewat perantara angin sejuk malam ini.

"Sosok abu-abu.. aku merindukanmu.
Hadirlah lagi di mimpiku, sekedar menampakkan warnamu.
Warna lembut terpancar dari hati mu, selembut serbuk sari bunga dari taman firdaus.
Setentram awan yang menghiasi langit senja, kau bersandar di bahuku.
Aku ingin sekali menggenggam mu, wahai bidadariku.
Tunggu aku.. tunggu aku.."

"Sudah larut. Tidurlah,, persiapakan ragamu untuk menyambut hari esok. Kau harus tetap melangkah. Aku tau langkahmu semata-mata hanya untuk dia, untuk menjemputnya, menggenggam tangannya dan membuatnya menjadi sosok yang nyata."
"Ya, benar angin.. Aku ingin meraih tangannya dan membawanya ke dunia ku. Dunia nyata. Aku yakin dia menunggu. Dan aku selalu berharap begitu."

"Sosok abu-abu.. selamat malam..."




Nanda Boess

Minggu, 10 Agustus 2014

Kisah "sederhana"

"Ku buka jendela dan merasakan cerahnya pagi.
Membayangkan wajahmu tersenyum di hadapanku.
Seakan kau berikan semangat kepadaku untuk jalani hari-hariku."

Hmm... lima tahun yang lalu. Ya, benar, aku ngga salah, lima tahun lalu aku menulis kata-kata ini untukmu. Tak kusangka kau masih menyimpannya. Kata-kata yang membuatmu tersenyum. Mungkin, aku harap begitu.

Sempat terlupakan olehku tapi kau selalu mengingatkannya. Kau tau, di balik kata-kata itu ada hati yang sedang berbunga, sedang mabuk kepayang oleh rasa yang aku sebut mmmm.. mungkin cinta. Haha, tertawa dalam hati sangat menggelikan. Kau pernah mengalaminya? Suara tawa ngga akan kau dengar dalam kondisi seperti ini. Hanya garis senyum yang muncul di wajahmu.

Lima tahun berlalu, aku lupa tentang kata-kata itu, tentang perasaan dulu, tapi aku ngga lupa, tentang siapa dirimu, tentang siapa kita. Kita tak lebih hanyalah dua bocah yang berjalan menelusuri sebuah lorong keraguan dan tersesat di dalam kisah "sederhana". Ya,, penantian satu tahun dan menjalani hubungan satu atau dua bulan itu "sederhana". Haha.

Sampai kau datang kembali di hadapanku, mengingatkanku akan semuanya, semua rasa yang pernah kurasakan dulu. Kau coba mengulang kembali semuanya, hari-hari yang terlewatkan dulu. Aku ngga bisa menolak, menolakmu yang mencoba menghidupkan kembali perasaan dan kenangan dulu. Ntah. Aku ngga menolak karena aku memang mau atau karena aku ngga peduli. Aku pun ngga tau. Yang kutau kau sudah ada di sampingku, menggenggam lenganku dan bersandar di bahuku. Cukup singkat bukan? Ya aku sudah bilang tadi ini kisah "sederhana".

Dan kini kututup jendela dan senja mulai tenggelam. Aroma mawar menyelimuti indahnya langit jingga, jingga kehitam-hitaman. Sembari kututup jendela aku berbisik..

"Senja..sambutlah sang bulan dan tenggelamlah bersama bayangnya
Bayangnya yang berbaur dengan awan jingga menghiasi hamparan langit
Dan biarkan aku terlelap dan bermimpi
Sampai kulihat sosoknya esok pagi,
Menggenggam kembali kisah 'sederhana' ini"




Nanda Boess

Rabu, 06 Agustus 2014

Puisi Kehampaan













Semua telah hilang..
Sisakan kepedihan
Ku berjalan di kehampaan
Dinginnya dunia menemani langkahku yang tertatih..letih..
menahan semua perih..

Dan dengarlah..
Jerit hatiku
Dan dekaplah..
Dingin jiwaku

Ku melintasi sunyi malam tanpa seseorang
Yang menggenggam tanganku ketika ku lelah
Berharap hilangkan letih..
Hapuskan semua sepi..sunyi..
Kupejamkam mata 
Dan..

Ku terlelap..
Lupakan sejenak semua perih
Dan melayang..
Didalam cahaya terang benderang

Ku berharap takkan melihat pagi 
Dan terus berada di sini
Dan biarlah semua hilang, terkubur bersama semua mimpi..
mimpi..

Dan dengarlah..
Jerit hatiku
Dan dekaplah..
Dingin jiwaku

Dan dengarlah..dengarlah..
Semua bisikku..
Jeritku..
Puisi..puisi..
Kehampaan..

  Nanda Boess