Rabu, 11 Maret 2015

Ruang Spekulasi

Tidak ada alasan kenapa aku memperlakukanmu seperti ini
Yang ku tau aku hanya ingin memperlakukanmu seperti ini
jadi, jangan pernah bertanya kenapa aku mau menjalani semua ini denganmu, melakukan semua ini padamu
Karena aku tidak menemukan jawabannya

Hei, apakah kau tau? Terkadang logikaku bertanya-tanya
kenapa aku mau menjalani semua ini denganmu?
Kau mau tau jawabannya?
...
Tidak ada
Sampai sekarang logikaku belum mendapatkan jawabannya
yang kusadari sampai saat ini aku masih menjalaninya denganmu

Bahagia?
Mungkin ini yang melumpuhkan logikaku
Karena aku bahagia menjalani ini denganmu
Jangan tunjukkan kekecewaan padaku, kumohon.
Karena itu bisa memenangkan logikaku
Tetap lumpuhkan logikaku..
Bidadari..

Terlihat jelas kata-kata itu lagi. Kata-kata yang menimbulkan tanya. Entahlah, apa sosokmu yang sedang aku rindukan atau suasananya yang sedang ku rindukan. Yang kusadari aku pernah tersenyum karena sosok dan suasana dulu. Dulu yang tak pernah kumengerti bisa terlukis cerita-cerita, entah darimana berawal semua tergores sedikit demi sedikit membangun cerita. Kondisinya pun tak pernah kuharapkan. Tinta-tinta yg ingin kuabaikan wujudnya semakin lama semakin liar menggoreskan dirinya di kertas kosong ini.

Kosong. Tatapan tak bermakna memandang lurus ke ujung daratan. Cakrawala. Sesekali hembusan napas panjang mengingatkan mata untuk berkedip. Tatapan hampa sudah mengabaikan indahnya langit senja. Jingga ini sungguh mempesona kawan. Tapi kau sama sekali tidak tertarik untuk berdecak kagum memujinya. Memilih untuk menatap kosong dunia. Sedang mengenang? Atau mungkin sedang mencoba mengosongkan memori? Hah, bukan begitu caranya.

Memori tentang bidadari? Ya, sudah kuduga. Bidadari yang pernah kau nantikan wujudnya, tapi mungkin tak kau harapkan kehadirannya. Bukankah kau meyakini konsep "Tidak ada yang kebetulan"? Lantas, kenapa masih hampa? Tidak ada lagikah yang membuat ruang hatimu ramai? Tidak ada lagikah tawa dan keceriaan? Ayolah kawan, ini hanya masalah waktu. Waktu yang akan menyelesaikannya. Karena ini memang "masalah waktu".

Iya, benar. Ini memang "masalah waktu". Aku mungkin sudah menyerahkan semuanya kepada sang waktu. Dan waktu akan membunuhku secara perlahan. Begitu, kan? Dan memang iya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Setiap pertemuan pasti ada maksud dan tujuannya. Hanya saja yang membuat aku gerah, kita tidak pernah tau maksud dan tujuan pastinya, mungkin sampai kita membuka gerbang kehidupan selanjutnya. Kita hanya bisa berspekulasi, beranggapan tentang maksud dan tujuannya. Entah itu positif atau negatif, tidak ada yang bisa merasa benar di sini. Di ruang spekulasi.

Mungkin aku dipertemukan olehnya agar aku bisa lebih mengerti memahami wanita yang akan mendampingiku nanti. Menghargai setiap penggal pemikirannya, setiap jengkal raganya, dan ridha dengan apa yang dilakukannya untukku. Mungkin Tuhan menunjuk dia sebagai bahan belajarku. melatihku lebih bijaksana menghadapi konflik antara dua insan, menghadapi kebohongan. Padahal itu perkara mudah. kalau tidak suka maka tinggalkan, kalau dia punya arti maka pertahankan. Tidak perlu bertindak berlebihan sampai-sampai emosi menguasai lisan.Tapi, yang membuat ini terasa begitu menyakitkan adalah ketika mengetahui orang yang kita pertahankan tidak menginginkan keberadaan kita lagi. Tergantikan? Ya, mungkin begitu adanya.

Dan memang tidak ada yang kebetulan, semuanya diijinkan terjadi. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan bahwa bukan dia bidadari yang akan selalu setia melihat gerak gerikku, yang selalu sedia mendengar rencana-rencana besarku, yang selalu tersenyum manja mendengar nada-nada mesra dariku, yang selalu mendoakan setiap langkahku, yang selalu yakin semua yang kulakukan itu hanya untuk menciptakan senyum manis bibirnya, senyum bahagia.

Inilah spekulasi yang terbaik yang bisa aku ciptakan.
Huhh, setidaknya aku sudah berpikir positif dan mulai mengikhlaskan.Dan kurasa aku sudah mendapatkan jawabannya. jawaban dari pertanyaan aku dan dia. Aku tidak ingin melihatmu jatuh (lagi). Itu jawabannya.
Yah, aku merasa lebih baik sekarang.

Syukurlah kalau ini hasil tatapan kosongmu. Tidak maukah kau bangun sejenak dari kekosonganmu dan menikmati langit jingga ini, kawan?

Hemm. Indah.. Sungguh indah. Kau benar kawan. Bagaimana bisa aku setia menikmati kekosongan dan mengabaikan indahnya langit jingga ini. Ini benar benar indah teman. Keindahan dari Sang Kuasa. Keindahan dari mengikhlaskan.

. . . . .

Nanda Boess

Tidak ada komentar:

Posting Komentar