Mendung ini sungguh merayu, merayu kelopak untuk menyelimuti buahnya.
Mata sayu memandang hampa ke arah luar jendela.
Gemuruh kereta menjadi nada pengisi suasana, mendung di pagi ketiga.
mendung ini sungguh merayu, merayu awan untuk melepas butirannya.
Mata sayu memandang hampa ke arah luar jendela.
Mengabaikan dedaunan hijau yang menari lembut menyambut rahmat Sang Kuasa, hujan di pagi ketiga.
Benak hati berkata-kata sekedar mengisi tatapan tak bermakna.
Apa boleh dikata, di bangku ini hanya ada aku dan hampa.
Hampa ini berkuasa, memahat udara menjadi rupa, rupa wajah lama.
Ya. Wajah lama.
Senyum manja yang kurindukan ada di depan mata.
Ya. Puisi lama.
Sajak-sajak cinta yang pernah bercerita.
Ya. Lagu lama.
Melodi-melodi indah yang hilang ditelan gemuruh kereta.
Dan mendung ini memang sungguh merayu, merayu jiwa bermain-main di nirwana.
. . . . .
Nanda Boess

Tidak ada komentar:
Posting Komentar